Jambi, Tengganai.id – Kepala Taman Budaya Jambi (TBJ), Eri Argawan, secara resmi menutup festival musik yang bertajuk ‘telusur tanah berjejak” pada hari ini (Selasa, 23/08/2022) dan festival ini telah berlangsung 22 – 23 Agustus 2022 di gedung arena, Taman Budaya Jambi.
Dalam pidatonyo, Er menyampaikan rasa hormatnya terhadap para peserta yang turut bersaing dalam kompetisi ini baik itu yang berasal dari kota Jambi maupun dari Kabupaten.
“Saya tentunya menyampaikan apresiasi terhadap para peserta yang turut berkompetisi, seperti halnya dari Kota Sungaipenuh. Walaupun jauh secara jarak ke kota Jambi, namun TBJ mencatat selalu hadirnya peserta dari kota Sungaipenuh. Kami juga tentunya berterima kasih untuk peserta dari kabupaten lain dan kota Jambi atas respon yang diberikan,” ujarnya dihadapan para peserta.
Eri Argawan juga menegaskan bahwa kedepan Festival musik khususnya akan menyedot banyak peserta dan TBJ berharap kegiatan ini akan menjadi daya tarik bagi banyak peserta. Tak hanya itu, ia juga berharap kelak adanya keikutsertaan dari kabupaten/kota lain d Provinsi Jambi.
“Kita berharap kedepan juga peserta dapat saling mengapresiasi masing-masing karya, ini penting karena untuk menghasilkan satu karya terbaik kita memang perlu pendalaman, pengalaman, penglihatan serta serapan,” tegasnya.
Sementara itu, dewan juri dalam pemaparannya jelang pengumuman para pemenang Festival Musik “Telusur Tanah Berjejak” di Taman Budaya Jambi tahun 2022, mengapresiasi kegiatan atau kompetisi berupa festival musik khususnya.
“Kami mengapresiasi kegiatan ini, kompetisi penciptaan dan konteks disini kita mencari suatu yang terbaik dari aspek penilaian untuk di apresiasi. Maka bukan berarti ada yang tidak bermakna, tidak bernilai atau ukurannya rendah. Ukuran terhadap suatu perlombaan yang dinilai dari penjurian itu tentu sangat terukur dari rencana program dan capaian yang ingin digagas atau dikembangkan dari suatu penyelenggara,” jelas Indra Gunawan.
Dia menyatakaan kebanggaannya anak muda mulai berpikir kritis tentang suatu fenomena kebudayaan. Dilihat dari aspek kekaryaaan para peserta terlihat mulai berpikir kritis tentang suatu fenomena kebudayaan. Lebih dari itu, bagaimana para peserta menyadari kebudayaan dalam konteks upacara adat itu suatu yang memiliki nilai dalam kehidupan masyarakat, kita menghargai kebudayaan itu dalam suatu aktivitas masyarakat. (Gun)








Discussion about this post